Was ist Aufklärung (What is Enlightenment)?

Pada hari Jumat bertempat di Augusteum, 2 Desember 2016 pukul 16:00 sampai pukul 20:00 telah berlangsung acara ngobrol santai bersama Divisi Pendidikan PPI Leipzig dengan tema ”Was ist Aufklärung / What is Enlightenment ? – Immanuel Kant”. Pertemuan dihadiri oleh 12 orang dan berjalan sangat menarik dan kritis. Berikut adalah review singkat dari pertemuan tersebut.

Selamat membaca!

 

____________________

*Determinasi dalam diskusi ini adalah, mengajak Pelajar-Pelajar Indonesia untuk lebih kontemplatif dalam memandang situasi sosio-politik di Indonesia.

Latar belakang Abad Pencerahan (Aufklärung/Enlightenment) terjadi setelah situasi sosio-politik di Eropa mengalami pasang-surut akibat konflik-konflik besar (peralihan kekuasaan Muslim kepada dinasti Trastamara di Spanyol 1492, reformasi protestant abad 16 dan perang 30 tahun 1618-1648). Pada saat yang sama di Eropa sedang memulai revolusi ilmu pengetahuan, munculnya pemikir-pemikir mempengaruhi pola pemikiran orang Eropa mulai dari pemahaman politik, ekonomi dan sains. Agama (pada saat itu) yang di institusionalisasikan dan memiliki kewenangan yang sangat besar untuk mengatur kehidupan sosial tertantang oleh methode ilmu pengetahuan yang sedang berkembang pesat kala itu seperti mazhab Empirisme dan Rasionalisme yang memberikan andilnya untuk kemajuan Industri dan mengkritisi Agama serta Otoritas Gereja sebagai salah satu thema yang terpenting dalam Abad Pencerahan.

Meledaknya Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Perancis 1789 menimbulkan efek domino yang mengguncang kerajaan-kerajaan di daratan Eropa. Sistem politik yang tiran juga ditantang oleh pemuda-pemuda borjuis yang mengilhami ide-ide Pencerahan yang mempropagandakan kemanusiaan dalam cerminan Pencerahan seperti : Optimisme, rasionalitas, kebajikkan, kebebasan, sekularisme, toleransi, persamaan hak, hak menentukan hidup (Self-Determination) dan demokrasi yang tersebar melalui ekspansi Napoleon Bonaparte (1802-1815) yang pada waktu yang bersamaan membawa ide-ide Revolusi Perancis ke dalam negara-negara Eropa yang didudukinya dan pasca Perang Napoleon, beberapa ide-ide Revolusi Perancis seperti salah satunya penghapusan perdagangan budak dan penghapusan kasta di praktikkan di kerajaan-kerajaan Eropa. Pada awal abad 20 Ide dan gagasan Revolusi Perancis juga mendunia dan menjadi cita-cita kaum intelektual dari bangsa yang terjajah, termasuk tokoh-tokoh mahsyur Indonesia, seperti Ir. Soekarno, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, M. Hatta.

Immanuel Kant yang juga seorang pemikir penting di Abad Pencerahan memberikan sebuah arti/makna dalam pengertian dari Pencerahan, yang mana telah Beliau asumsikan bahwa Abad Pencerahan adalah Abad dimana orang-orang harus berpikir dengan menggunakan Akal Budi Murni nya (Verstand/Ratio). Dalam Essay-nya yang menjadi bahasan utama pada NgobrolSantai jumat lalu (2.12.2017) Kant menunjukkan sikap optimisme-nya tentang pentingnya kebebasan untuk produktivitas manusia, Beliau juga menolak hal-hal yang tidak rasional seperti Kekuasaan turun-temurun, baginya bentuk negara yang paling ideal adalah Republik dan mendukung federalisme antar negara berdaulat, sebagai ganti Perjanjian Damai (Peace Treaty) yang dianggapnya mudah dijadikan dalih untuk perang jilid selanjutnya saja, Kant pun juga menolak persaingan militerisme ketimbang persaingan dalam ekonomi yang menjamin perdamaian antar bangsa. Tentang Hak-hak Kosmopolitanisme juga dijelaskan, bahwa setiap manusia diatas bumi ini seharusnya memiliki hak untuk bermukim dimana saja untuk menghindari marabahaya di tempat asalnya seperti kasus pengungsi dalam 3 tahun belakangan ini. Argumen Kant tentang hak kosmopolitanisme ialah : Bahwa setiap manusia di bumi maka dari itu telah masuk kedalam kommmunitas yang universal dalam tingkatan yang berbeda beda dan telah berkembang sampai kepada titik , dimana sebuah pelanggaran hak dalam satu bagian dunia telah dirasakan dimana-mana (Seluruh manusia dibumi ini).

 

Namun…

 

Apakah ide-ide dalam Abad Pencerahan sudah terpenuhi hari ini? Dan apakah Akal Budi Murni (Verstand/Ratio) yang disebut Kant sebagai pusat segalanya dalam diri manusia tidak menghasilkan Antithesis? Jawabannya : Belum dan Ya.

Masih banyak pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi, bahkan negara-negara adikuasa yang sangat menjunjung HAM pun berlaku seperti Imperialis dan malah jatuh kedalam ilusi ideologi kemanusiaannya, di Indonesia pun yang sangat dekat dengan Kita, sejak berdirinya Republik Indonesia dan sejak di deklarasikan Universal Declaration Of Human Rights pasca Perang Dunia ke 2 banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran HAM yang belum terselesaikan seperti kasus 1965 (Rekonsiliasi), penculikan&pembunuhan orang di era Orde Baru dan 1998.

Sudah 43 tahun Papua Barat menjadi bagian dari Indonesia, paradigma umum tentang Papua hanya Pertambangan besar dan Koteka, tebelakang, lalu apa sisi lain yang terjadi disana? Sejak dulu Indonesia dan pihak swasta hanya mengeksploitasi dan mengeruk profit dari Papua saja, sedikit perhatian mereka terhadap perkembangan Provinsi tersebut. sudah banyak orang-orang Papua menderita ditindas oleh Aparat negara sejak puluhan tahun lalu karena dianggap subversif, orang-orang Papua pun tidak memiliki kebebasan beraspirasi sebebas orang-orang di luar Papua karena mungkin saja dianggap subversif (melawan pemerintah). Menurut pengamatan beberapa peserta diskusi, mereka sangat jarang melihat kehadiran orang-orang Papua di acara-acara Indonesia yang diselenggarakan oleh organisasi pelajar maupun non pelajar di Jerman, kemudian timbul pertanyaan apakah orang-orang Papua memiliki Perasaan Kebersamaan (Sense Of Belonging) terhadap Kita? Atau adakah sentimen ras? Pendapat-pendapat para peserta diskusi variatif dan menimbulkan dua pernyataan : Pertanyaan tentang kedaulatan, apakah Papua Barat seharusnya diberikan hak untuk menentukan hidup sendiri (Self-determination), apakah ini semua hanya miskomunikasi karena perbedaan gaya bahasa? Namun salah satu peserta membantah hal perbedaan gaya bahasa yang dianggapnya hanya masalah kecil, karena banyak juga orang Jakarta (yang terkenal dengan bahasa slangnya) bisa bergaul dan bersahabat dengan orang di luar Jakarta dengan mudah (tidak melewati tahap-tahap yang muluk) dan bukannya mereka anti untuk bergaul dengan orang luar Papua, mereka terlihat apatis terhadap perlakuan pemerintah, sehingga berdampak atas sikap mereka kepada orang dari luar Papua. Ataukah Papua mungkin dapat lebih baik tetap bersama NKRI dengan dinobatkan sebagai Daerah Khusus seperti Aceh dan Yogyakarta? Kasus ini harus dijawab oleh aksi pemerintah yang nyata dan tentu harus mengikuti kaca mata Papua (dalam artian kebutuhan-kebutuhan yang sesuai dengan alam dan masyarakat disana). Salah satu peserta lain juga optimis akan Pemerintahan saat ini yang sedang mengadakan pembangunan infrastruktur yang dimulai dari Timur lalu sampai ke Barat. Selain itu ada juga pesimisme terhadap perkembangan Papua karena birokrasi yang korup dan keberadaan Korporasi besar Freeport sejak tahun 1967 yang terkesan telah memberikan legitimasi untuk Pemerintah Indonesia mengeruk/menjajah Papua. Sentimen ras terhadap etnis Tionghoa saat ini juga masih bersarang di banyak pikiran orang-orang Indonesia, bersamaan dengan gagasan Nasionalisme menjustifikasi dan mengekslusifkan element-element masyarakat. untuk melakukan kekerasan (struktural maupun non-struktural) melawan etnis ini. Walaupun mungkin saja pasca reformasi kejadian-kejadian na’as tersebut terlihat minim, namun trauma tetap bersarang dalam pikiran dan hati mereka. Perkara toleransi beragama pun juga masih memiliki rapot merah, serta kasus-kasus yang krusial : Provinsi terlantar, rasisme, diskriminasi dapat mempolarisasi masyarakat itu sendiri, sehingga dapat terjadi apatisme dan berujung kepada matinya kreativitas orang-orang Indonesia dan separatisme/desintegrasi di dalam Negara Kesatuan itu sendiri, jika hanya karena Kita terlalu mengikuti opini publik yang berlaku dan tidak memposisikan diri sebagai ras, agama, provinsi yang berbeda.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki angka baca yang sangat rendah, selain faktor kurang pedulinya dengan dunia literatur, pelarangan buku juga menjadi bahan perbincangan. Konstelasi di Indonesia masih sangat paranoid terhadap pemikiran-pemikiran import, terutama yang berbau Kommunisme. Dua tahun belakangan banyak kasus-kasus sweeping sepihak terhadap diskusi yang terkait Kommunisme/Marxisme, padahal hanya sebagai bahan diskusi saja semenjak belakangan munculnya kasus-kasus 1965 muncul kepermukaan, banyak dari kalangan militer (terutama Purnawirawan) dan ormas religi yang sangat cemas, walaupun ideologi ini sudah runtuh sejak awal 90an dan gerakkan-gerakkannya tidak pernah benar-benar massiv seperti awal dab pertengahan abad 20.

Paradigma pengertian sekulerisme di Indonesia berasumsi seakan-akan pembumi hangusan total agama dalam negara, sebenarnya tidak, Sekularisme adalah persoalan bagaimana agama tidak memasuki ruang privat masyarakat dan bagaimana seharusnya pemerintah meregulasi hal tersebut, seperti contoh beberapa institusi pendidikan di Indonesia memberikan beasiswa kepada Penghafal AL QUr’an, mengapa tidak untuk penghafal Weda atau Injil? Seperti test keperawanan sebagai salah satu klasifikasi untuk memasuki institusi pendidikan. Ini terlihat tidak fair dan tidak penting diperkarakan. Salah satu peserta diskusi mengemukakan pendapat apakah sekularisme itu soal kesiapan dan ketidaksiapan sebuah negara, dengan mengambil contoh Turki, setelah Republik Turki berdiri dibawah Kemal Ataturk mengeksekusi sekularisasi total , melarang wanita untuk berbusana muslim, dilarang adzan dll. Kemudian ketika di masa Erdogan, Turki mengalami perkembangan yang cukup pesat, semangat Islam bangkit dan cenderung menjadikan Turki menjadi negara konfensionalis. Sekulerisme di Turki dianggap gagal. Salah satu peserta memanambahkan, ketika Agama di institusionalisasikan, negara akan cenderung memaksa warganya untuk memeluk sebuah kepercayaan tertentu dan dogmatisme didalam kehidupan sosiopolitik tidak bisa dipungkiri akan muncul, sehingga pemerintah/pihak yang berwenang bisa dengan mudah mendoktrin masyarakat sesuai keperluannya.

Kasus-kasus diatas menghadapkan kita kepada pertanyaan, Apakah Kita benar-benar sudah Tercerahkan? Pertimbangan ada dipikiran masing-masing.

Seperti apa yang di sinyalir oleh Francis Bacon “Ilmu Pengetahuan adalah Kekuatan” dan pemikir Persia, Firdausi “Seseorang yang memiliki Ilmu Pengetahuan itu berkuasa”. Pemikir pertengahan abad 20 asal Perancis, Michel Foucault juga mengasosiasikan Pengetahuan dengan Kekuatan yang membuka kemungkinan baru terhadap kontrol masyarakat. Ilmu Pengetahuan yang dihasilkan dari Rasionalitas menjadi kritik sentral mengenai Antithesis dari Pemikiran Pencerahan tidak bisa dihindarkan, rasionalitas di era postmodern telah menghasilkan kekuatan baru yang sifatnya bahaya laten, memberikan kekuatan kepada segelintir teknokrat, mereka menciptakan teknologi yang mutakhir dan membuat manusia terasing, karena ketergantungannya yang diciptakan oleh kaum teknokrat. Seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah melihat orang-orang yang selalu melihat layar kaca smartphone dan tidak tenang ketika benda itu tidak ditangannya atau melihat socmed setiap saat. Dan itu menimbulkan ketergantungan dan konsumsi yang semakin berlebihan.

Ternyata Akal Budi Murni pun tidak benar-benar mampu dalam menyelesaikan persoalan.

 

______________

Written by: Andre Prayoga

Leave a Reply

Close Menu